Jumat, 30 November 2018

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA LANSIA


LAPORAN TUGAS MANDIRI
APLIKASI KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELOMPOK LANSIA DI SETTING KOMUNITAS


Oleh :
Namira Salsabila
1712101010056



Description: Description: UNSIAH


UNIVERSITAS SYIAH KUALA  FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
BANDA ACEH
(2018)




BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pertumbuhan populasi lanjut usia terus meningkat sehingga menyebabkan berbagai masalah klinis pun muncul. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Menurut Maramis (2004), penurunan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan stres lingkungan sering menyebabkan gangguan psikososial pada lansia. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kecemasan pada lansia adalah dengan komunikasi terapeutik. Komunikais terapeutik ini memfokuskan pada kesejahteraan dan emosional pasien. Tujuan dari komunikasi terapeutik ini adalah untuk membantu pasien dalam meringankan beban pikirannya serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan, mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya, mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan, mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara profesional dan proposional dalam rangka membantu penyelesaian masalah klien (Mundakir, 2006).



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam hal ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien (Stuart, 1998) atau proses dimana perawat menggunakan pendekatan terencana dalam mempelajari klien (Potter – Perry, 2000). 
Sedangkan menurut Videback, (2008) komunikasi terapeutik merupakan suatu interaksi antar perawat dan klien yang selama interaksi berlangsung perawat berfokus pada kebutuhan khusus klien untuk meningkatkan pertukaran informasi yang efektif.
B.     Manfaat dan Tujuan Komunikasi Terapeutik pada Lansia
Manfaat komunikasi terapeutik pada lansia adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Sedangkan tujuannya adalah :
1.      Mengurangi beban lansia
2.      Memudahkan tindakan keperawatan
3.      Memandirikan pasien
4.      Memenuhi kebutuhan pasien
5.      Menggerakkan pasien untuk melakukan sesuatu
6.      Tindakan efektif
C.     Strategi dalam berkomunikasi dengan pasien usia lanjut (>65 tahun)
Menurut Lisa Kennedy Sheldon, 2009, strategi dalam berkomunikasi dengan lansia adalah sebagai berikut :
1.      Pada lansia ini membutuhkan perhatian khusus den ekstra seperti  perhatian pada anak.
2.      Mengalami penurunan akibat penurunan berbagai fungsi tubuh
D.     Pendekatan Keperawatan Lanjut Usia
1.      Pendekatan Fisik
Bentuk kegiatannya yaitu Perawatan fisik secara umum bagi pasien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni pasien lanjut usia yang masih aktif dan pasif. Bertujuan untuk Untuk mengetahui perubahan fisik pada organ tubuh,tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresivitasnya bagi pasien lansia.
2.      Pendekatan Psikis
Bentuk kegiatan berupa mengadakan pendekatan edukatif pada pasien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interprecter, terhadap segala sesuatu yang asing, dan sebagai sahabat yang akrab. Ini bertujuan untuk mendukung mental pasien lansia ke arah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan senang.
3.      Pendekatan Sosial
Bentuk kegiatan berupa mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesame klien lanjut usia berarti mencipatakan sosialisasi mereka. Tujuannya untuk  mendukung pasien lansia agar tetap bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Misalnya, seperti berolahraga pagi.
4.      Pendekatan Spiritual
Bentuk pendekatannya yaitu perawat harus memberikan ketenangna dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianut, terutama bila pasien lanjut usia dalam keadaan sakit.

E.     Kutipan dari Jurnal Pendukung
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Liya Novitasari, dkk (2013), Faktor-faktor kecemasan yang dialami oleh lansia yang tinggal di balai rehabilitasi yaitu lansia merasa khawatir akan penyakitnya yang bertambah parah, lansia merasa khawatir bahwa penyakitnya tidak bisa sembuh, perasaan lansia yang merasa bahwa dirinya sudah tidak diperdulikan lagi oleh keluarga, diasingkan oleh keluarga dan lingkungan yang dirasa tidak nyaman oleh lansia. Adanya perbedaan dari sikap penerimaan lansia terhadap perubahan yang terjadi baik secara fisik maupun psikologis dari lansia ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap kecemasan.Penyebab kecemasan yang sering dialami lansia adalah kondisi lingkungan atau tempat tinggal seseorang, emosi yang ditekan, sebab-sebab fisik (Ramaiah, 2003). Kecemasan ditandai dengan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Bila kecemasan tidak sejalan dengan kehidupan dan berlangsung terus-menerus dalam waktu lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Stuart & Sundeen, 1998). 
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Fitria Ayuningtyas dkk, (2017) Pasien lansia sangat memerlukan komunikasi yang baik dan empati juga perhatian yang “cukup” dari berbagai pihak, terutama dari keluarganya sebagai bagian penting dalam penanganan masalah kesehatan mereka. Namun, dengan berkembangnya zaman dan semakin tingginya kebutuhan hidup sehari-hari maka orang-orang kini sibuk untuk bekerja mencari nafkah. Berangkat ke tempat kerja sebelum subuh dan tiba di rumah saat malam hari dikarenakan macetnya jalanan. Hal tersebut ternyata menjadi alasan utama, sebagian orang yang menitipkan orangtuanya yang telah lansia ke Panti Werdha dan tidak semata-mata untuk “membuangnya,” melainkan ingin memberikan kenyamanan dan keamanan mengingat jika ditinggal sendiri di rumah memiliki risiko yang tidak sedikit.
BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Kesehatan yang optimal pada pasien lanjut usia atau selanjutnya penulis sebut sebagai lansia tidak hanya bergantung kepada kebutuhan biomedis semata namun juga bergantung kepada kondisi disekitarnya, seperti perhatian yang lebih terhadap keadaan sosialnya, ekonominya, kulturalnya bahkan psikologisnya dari pasien tersebut. Hubungan saling memberi dan menerima antara perawat dan pasien dalam pelayanan keperawatan disebut sebagai komunikasi terapeutik perawat yang merupakan komunikasi profesional perawat. Komunikasi antara perawat dan pasien lansia harus berjalan efektif terutama bagi pasien lansia karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan dari pasien lansia tersebut. Komunikasi yang baik dengan pasien adalah kunci keberhasilan untuk masalah klinisnya.



DAFTAR PUSTAKA
            Fitria Ayuningtyas,dkk..2017. Komunikasi Terapeutik pada Lansia di Graha Werdha AUSSI Kusuma Lestari, Depok. Vol.10(2), 201-215
            Liya Novitasari,dkk. 2013. Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Kecemasan Lansia yang Tinggal di Balai Rehabilitasi Sosial “Mandiri” Pucang Gading Semarang. 72-75.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERAWATAN PALIATIF

Tugas Kelompok  Blok Keperawatan Paliatif dan Menjelang Ajal Tutorial 6: Erfiana Elsa Ismiranda Namira Salsabila Nurul Mudhma...