LAPORAN TUGAS MANDIRI
APLIKASI KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELOMPOK LANSIA DI SETTING
KOMUNITAS
Oleh :
Namira Salsabila
1712101010056

UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
BANDA ACEH
(2018)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pertumbuhan
populasi lanjut usia terus meningkat sehingga menyebabkan berbagai masalah
klinis pun muncul. Badan kesehatan
dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan
yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia
banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan
terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia
menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia
(elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua
(very old) diatas 90 tahun.
Menurut Maramis (2004), penurunan kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan dan stres lingkungan sering menyebabkan gangguan psikososial pada
lansia. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kecemasan pada
lansia adalah dengan komunikasi terapeutik. Komunikais terapeutik ini
memfokuskan pada kesejahteraan dan emosional pasien. Tujuan dari komunikasi
terapeutik ini adalah untuk membantu pasien dalam meringankan beban pikirannya
serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien
percaya pada hal-hal yang diperlukan, mengurangi keraguan, membantu dalam hal
mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya,
mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal
peningkatan derajat kesehatan, mempererat hubungan atau interaksi antara klien
dengan terapis (tenaga kesehatan) secara profesional dan proposional dalam
rangka membantu penyelesaian masalah klien (Mundakir, 2006).
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi
terapeutik adalah merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien,
dalam hal ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam
rangka memperbaiki pengalaman emosional klien (Stuart, 1998) atau proses dimana perawat menggunakan
pendekatan terencana dalam mempelajari klien (Potter – Perry, 2000).
Sedangkan menurut Videback, (2008) komunikasi
terapeutik merupakan suatu interaksi antar perawat dan klien yang selama
interaksi berlangsung perawat berfokus pada kebutuhan khusus klien untuk
meningkatkan pertukaran informasi yang efektif.
B. Manfaat
dan Tujuan Komunikasi Terapeutik pada Lansia
Manfaat komunikasi terapeutik pada lansia adalah untuk mendorong dan
menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan
pasien. Sedangkan tujuannya adalah :
1.
Mengurangi
beban lansia
2.
Memudahkan
tindakan keperawatan
3.
Memandirikan
pasien
4.
Memenuhi
kebutuhan pasien
5.
Menggerakkan
pasien untuk melakukan sesuatu
6.
Tindakan
efektif
C. Strategi
dalam berkomunikasi dengan pasien usia lanjut (>65 tahun)
Menurut
Lisa Kennedy Sheldon, 2009, strategi dalam berkomunikasi dengan lansia adalah
sebagai berikut :
1.
Pada
lansia ini membutuhkan perhatian khusus den ekstra seperti perhatian pada anak.
2.
Mengalami
penurunan akibat penurunan berbagai fungsi tubuh
D.
Pendekatan
Keperawatan Lanjut Usia
1.
Pendekatan
Fisik
Bentuk kegiatannya
yaitu Perawatan fisik secara umum bagi pasien
lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni pasien lanjut usia yang masih aktif
dan pasif. Bertujuan untuk Untuk mengetahui perubahan fisik pada organ tubuh,tingkat
kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat
dicegah atau ditekan progresivitasnya bagi pasien lansia.
2.
Pendekatan
Psikis
Bentuk kegiatan berupa mengadakan pendekatan edukatif pada pasien lanjut
usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interprecter, terhadap segala
sesuatu yang asing, dan sebagai sahabat yang akrab. Ini bertujuan untuk
mendukung mental pasien lansia ke arah pemuasan pribadi sehingga seluruh
pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di
masa lanjut usia ini mereka puas dan senang.
3.
Pendekatan
Sosial
Bentuk kegiatan berupa mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita
merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk
berkumpul bersama dengan sesame klien lanjut usia berarti mencipatakan
sosialisasi mereka. Tujuannya untuk mendukung
pasien lansia agar tetap bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Misalnya,
seperti berolahraga pagi.
4.
Pendekatan
Spiritual
Bentuk pendekatannya yaitu perawat harus memberikan ketenangna dan
kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianut, terutama
bila pasien lanjut usia dalam keadaan sakit.
E.
Kutipan
dari Jurnal Pendukung
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Liya
Novitasari, dkk (2013), Faktor-faktor
kecemasan yang dialami oleh lansia yang tinggal di balai rehabilitasi yaitu
lansia merasa khawatir akan penyakitnya yang bertambah parah, lansia merasa
khawatir bahwa penyakitnya tidak bisa sembuh, perasaan lansia yang merasa bahwa
dirinya sudah tidak diperdulikan lagi oleh keluarga, diasingkan oleh keluarga
dan lingkungan yang dirasa tidak nyaman oleh lansia. Adanya perbedaan dari
sikap penerimaan lansia terhadap perubahan yang terjadi baik secara fisik
maupun psikologis dari lansia ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap
kecemasan.Penyebab kecemasan yang sering dialami lansia adalah kondisi
lingkungan atau tempat tinggal seseorang, emosi yang ditekan, sebab-sebab fisik
(Ramaiah, 2003). Kecemasan ditandai dengan ketakutan atau kekhawatiran yang
mendalam dan berkelanjutan. Bila kecemasan tidak sejalan dengan kehidupan dan
berlangsung terus-menerus dalam waktu lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat
bahkan kematian (Stuart & Sundeen, 1998).
Sedangkan penelitian yang
dilakukan oleh Fitria
Ayuningtyas dkk, (2017) Pasien lansia sangat
memerlukan komunikasi yang baik dan empati juga perhatian yang “cukup” dari
berbagai pihak, terutama dari keluarganya sebagai bagian penting dalam
penanganan masalah kesehatan mereka. Namun, dengan berkembangnya zaman dan
semakin tingginya kebutuhan hidup sehari-hari maka orang-orang kini sibuk untuk
bekerja mencari nafkah. Berangkat ke tempat kerja sebelum subuh dan tiba di
rumah saat malam hari dikarenakan macetnya jalanan. Hal tersebut ternyata menjadi
alasan utama, sebagian orang yang menitipkan orangtuanya yang telah lansia ke
Panti Werdha dan tidak semata-mata untuk “membuangnya,” melainkan ingin
memberikan kenyamanan dan keamanan mengingat jika ditinggal sendiri di rumah
memiliki risiko yang tidak sedikit.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesehatan
yang optimal pada pasien lanjut usia atau selanjutnya penulis sebut sebagai
lansia tidak hanya bergantung kepada kebutuhan biomedis semata namun juga
bergantung kepada kondisi disekitarnya, seperti perhatian yang lebih terhadap
keadaan sosialnya, ekonominya, kulturalnya bahkan psikologisnya dari pasien
tersebut. Hubungan saling memberi dan menerima antara perawat dan pasien dalam
pelayanan keperawatan disebut sebagai komunikasi terapeutik perawat yang
merupakan komunikasi profesional perawat. Komunikasi antara perawat dan pasien
lansia harus berjalan efektif terutama bagi pasien lansia karena mempunyai
pengaruh yang besar terhadap kesehatan dari pasien lansia tersebut. Komunikasi
yang baik dengan pasien adalah kunci keberhasilan untuk masalah klinisnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Fitria
Ayuningtyas,dkk..2017. Komunikasi Terapeutik pada Lansia di Graha Werdha
AUSSI Kusuma Lestari, Depok. Vol.10(2), 201-215
Liya Novitasari,dkk.
2013. Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Kecemasan Lansia yang Tinggal di
Balai Rehabilitasi Sosial “Mandiri” Pucang Gading Semarang. 72-75.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar