Selasa, 19 November 2019

PERAWATAN PALIATIF

Tugas Kelompok
 Blok Keperawatan Paliatif dan Menjelang Ajal

Tutorial 6:
Erfiana
Elsa Ismiranda
Namira Salsabila
Nurul Mudhmainnah
Kartika Tiaranisa Kosasih
Elfinda Nurzahri
Rika Faranita
Rosa Delima
Dian Nellisa


Dosen Pembimbing:
Ns. Nova Fajri, M.Kep., Sp.Kep.An





Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Keperawatan 
Universitas Syiah Kuala
2019











PERAWATAN PALIATIF

Ilustrasi Perawat (http://tektone.com/)

Tahukah Anda apakah perawatan paliatif itu?, Paliatif care adalah pendekatan  yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dengan penyakit terminal  (mengancam jiwa),dengan meng identifikasi dini dan melakukan penilaian serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).
Kualitas hidup adalah persepsi pasien terhadap keadaannya yang dipengaruhi oleh budaya dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan. Dimensi dari kualitas hidup yaitu mampu memanajemen gejala fisik, kemampuan fungsional (aktivitas), kesejahteraan spiritual, fungsi sosial baik, kepuasan terhadap pengobatan, orientasi masa depan, kehidupan seksual, mampu dalam bekerja.
Penyakit terminal yaitu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan harapan hidup tipis  dan  menuju ke arah kematian. Contohnya seperti penyakit jantungkanker, gagal hati dan gagal ginjal.
Tujuan perawatan paliatif menurut WHO yaitu:
   Memberikan asuhan untuk mengurangi nyeri dan gejala gejala yang timbul serta meningkatkan kenyamanan pasien.
·        Mengafirmasikan bahwa kematian sebagai proses yang normal
·        Tidak bermaksud untuk mempercepat dan memperlambat kematian
·        Meningkatkan kualitas hidup
·        Mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual dalam perawatan pasien
·        Menawarkan sistem pendukung untuk membantu pasien hidup seaktif mungkin
·      Menggunakan pendekatan tim untuk menangani kebutuhan pasien dan keluarga, termasuk konseling saat masa berkabung jika dindikasikan
·        Perawatan paliatif diberikan  saat permama kali didiagnosis penyakit terminal.
Gejala yang paling sering muncul pada pasien dengan penyakit terminal yaitu fatigue ( keletihan), diare, nyeri, sesak nafas ( dyspnea), konstipasi, mual muntah, delirium, ansietas ( cemas ), anorexia ( penurunan nafsu makan ), asites (penumpukan cairan di rongga perut).


Prinsip penatalaksanaan gejala tersebut diantaranya:
·       Perawatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi gejala bukanuntuk menyembuhkan
·       Hanya menangani yang bisa ditangani
·       Melakukan pendekatan secara farmakologis dan non farmakologis
·       Obat yang diberikan harus sesuai dengan gelaja yang dialami oleh pasien serta dosis regular
·       Mengantisipasi efek samping dari pengobatan
·       Melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan

Berdasarkan Keputusan Kementrian Kesehatan tahun 2007 tempat perawatan paliatif yaitu:
·       Rumah sakit : diperuntukkan bagi bagi pasien yang memerlukan perawatan intensif dan  pengawasan ketat, tindakan khusus, atau peralatan khusus.
·        Puskesmas : bagi pasien yang melakukan rawat jalan
·         Rumah singgah(hospis) :untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus, maupun peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga kesehatan
  • Rumah pasien: bagi pasien yang sudah diperbolehkan pulang atau rawat jalan  yang sudah tidak memerlukan pengawasan ketat dan hanya memerlukan  perawatan yang boleh dilakukan secara andiri atau keluarga.
Taukah anda bagaimana prosedur perawatan paliatif?

Penyakit kronis pada pasien dapat berdampak pada semua aspek kehidupan pasien. Oleh sebab itu, perawatan paliatif dilakukan untuk mengurangi dampak atau gejala yang mungkin timbul akibat penyakit pasien, perawatan yang dilakukan secaha holistic (bio-psiko-sosio-kultural). Adapun gangguan yang dapat terjadi pada pasien diantaranya :

·         Gangguan fisik contohnya  nyeri, susah tidur, sesak nafas, anoreksia, fatigue, dll. Gejala tersebut sangat sering  dirasakan oleh pasien penyakit kronis yang sudah berada di stadium akhir. Adapun yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut  yaitu pemberian analgestik, mengatur posisi pasien untuk meningkatkan kenyamanan setra memanajemen sesak nafas.
·         Gangguan emosi dan sosial seringkali terjadi pada pasien denga diagnosa penyakit kronis atau terminal yang ditandai dengan rasa takut, marah, sedih, emosi tidak terkontrol, dan depresi. Tidak hanya terjadi pada pasien namun pada keluarga juga bisa terjadinya ansietas atau cemas. Dalam perawatan paliatif, hal ini dapat dikurangi dengan cara melakukan konseling, berbagi pengalaman antar pasien yang memiliki riwayat penyakit yang sama.
·         Masalah spiritual, ketika seseorang mengalami penyakit kronis maka mereka akan mencari kedamaian serta ketenangan dengan mendekatkan diri dengan tuhan. Tugas perawat yaitu memfasilitasi ritual pasien serta mendatangkan tokoh-tokoh agama yang sesuai keyakinan pasien.

Tahukah Anda manfaat perawatan paliatif?

·         Dari hasil  penelitian sebagian besar perawatan paliatif mampu mengatasi  tanda dan gejaladari penyakit yang diderita, mampu mengontrol emosi, serta berkomunikasi dengan baik ternyata cenderung memiliki pengalaman pengobatan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya..

Kapankah Harus Dilakukan  Perawatan Paliatif?

Perawatan paliatif tidak hanya ditujukan semata-mata kepada penderita kanker tapi paliatif care bisa diberikan kepada orang  yang menderita penyakit kronis, seperti gagal ginjal, PPOKgagal jantung, gagal hati, gagal ginjal, hepatitis dan HIV dan AIDS yang mengalami penurunan sistem imun.

Ilustrasi Gagal Ginjal Kronik (https://m.kumparan.com/)

Gagal ginjal kronik adalah suatu kondisi ketika ginjal mengalami kehilangan fungsi secara progresif dan irefessibel dengan nilai GFR < 15  sehingga tidak mampu menyaring zat sisa metabolisme tubuh dan penimbunan zat zat beracun di dalam tubuh.

PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) adalah peradangan paru yang terjadi dalam waktu jangka panjang. Sehingga menghambat  aliran udara dari paru-paru karena terhalang pembengkakan dan lendir atau dahak akibatnya  penderitanya sulit bernapas.


Ilustrasi Gagal Jantung (https://islamidia.com/)

Gagal jantung adalah suatu kondisi rusaknya otot jantung yang mengakibatkan jantung tidak mampu lagi memompa darah keseluruh tubuh. Gejala yang sering muncul  seperti mudah lelah, nyeri akibat kurangnya suplai oksigen ( angina ), piiting udema, dll

Setiap pasien dengan penyakit serius seperti salah satu penyakit yang disebutkan diatas serta mengalami rasa nyeri, sesak nafas, keletihan , dll dapat dipertimbangkan untuk melakukan perawatan paliatif. Perawatan paliatif dapat diberikan kepada semua rentang usia dari anak anak sampai dengan dewasa.

Pada pasien dengan penyakit terminal tidak mungkin dapat dilakukan pengobatan secara kuratif tapi perawatan paliatif dapat diberikan sebagai rencana pengobatan tunggal  kepada pasien dalam bentuk perawatan paliatif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup .
Paliatif care tidak untuk menyembuhkan tetapi mengelola atau mengatasi gejala yang muncul akibat penyakit seperti  mengatasi rasa nyeri dengan pemberian opioid. Antimetik akan diberikan untuk mengatasi rasa mual, serta penanganan sesak nafas dapat dilakukan dengan cra pemberian oksigen dan melakukan penangana secara non farmakologis seperti nafas dalam, dan mengatur posisi pasien menjadi semifowler untuk memudahkan ekspansi paru . Selain itu terapi fisik juga tetap dilakukan seperti kemoterapi paliatif , radioterapi pada pasien kanker akan ditawarkan untuk mengecilkan massa dan meminimalkan rasa nyeri tergantung dari gejala yang muncul.

Ilustrasi Perawat Melibatkan Keluarga (https://aftenro.org/)

Paliatif tidak hanya berfokus pada pasien tapi juga pada keluarga pasien, yang berisIko mengalami masalah emosional, psikologis dan sosial karena penyakit pasien, sehingga perawatan paliatif yang diberikan kepada keluarga pasien  diharapkan dapat membantu mengurangi rasa khawatir mereka dan membantu mereka dalam mengatasi masa masa sulit yang dialami.

.





Jumat, 30 November 2018

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA LANSIA


LAPORAN TUGAS MANDIRI
APLIKASI KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELOMPOK LANSIA DI SETTING KOMUNITAS


Oleh :
Namira Salsabila
1712101010056



Description: Description: UNSIAH


UNIVERSITAS SYIAH KUALA  FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
BANDA ACEH
(2018)




BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pertumbuhan populasi lanjut usia terus meningkat sehingga menyebabkan berbagai masalah klinis pun muncul. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Menurut Maramis (2004), penurunan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan stres lingkungan sering menyebabkan gangguan psikososial pada lansia. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kecemasan pada lansia adalah dengan komunikasi terapeutik. Komunikais terapeutik ini memfokuskan pada kesejahteraan dan emosional pasien. Tujuan dari komunikasi terapeutik ini adalah untuk membantu pasien dalam meringankan beban pikirannya serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan, mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya, mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan, mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara profesional dan proposional dalam rangka membantu penyelesaian masalah klien (Mundakir, 2006).



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam hal ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien (Stuart, 1998) atau proses dimana perawat menggunakan pendekatan terencana dalam mempelajari klien (Potter – Perry, 2000). 
Sedangkan menurut Videback, (2008) komunikasi terapeutik merupakan suatu interaksi antar perawat dan klien yang selama interaksi berlangsung perawat berfokus pada kebutuhan khusus klien untuk meningkatkan pertukaran informasi yang efektif.
B.     Manfaat dan Tujuan Komunikasi Terapeutik pada Lansia
Manfaat komunikasi terapeutik pada lansia adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Sedangkan tujuannya adalah :
1.      Mengurangi beban lansia
2.      Memudahkan tindakan keperawatan
3.      Memandirikan pasien
4.      Memenuhi kebutuhan pasien
5.      Menggerakkan pasien untuk melakukan sesuatu
6.      Tindakan efektif
C.     Strategi dalam berkomunikasi dengan pasien usia lanjut (>65 tahun)
Menurut Lisa Kennedy Sheldon, 2009, strategi dalam berkomunikasi dengan lansia adalah sebagai berikut :
1.      Pada lansia ini membutuhkan perhatian khusus den ekstra seperti  perhatian pada anak.
2.      Mengalami penurunan akibat penurunan berbagai fungsi tubuh
D.     Pendekatan Keperawatan Lanjut Usia
1.      Pendekatan Fisik
Bentuk kegiatannya yaitu Perawatan fisik secara umum bagi pasien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni pasien lanjut usia yang masih aktif dan pasif. Bertujuan untuk Untuk mengetahui perubahan fisik pada organ tubuh,tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresivitasnya bagi pasien lansia.
2.      Pendekatan Psikis
Bentuk kegiatan berupa mengadakan pendekatan edukatif pada pasien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interprecter, terhadap segala sesuatu yang asing, dan sebagai sahabat yang akrab. Ini bertujuan untuk mendukung mental pasien lansia ke arah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan senang.
3.      Pendekatan Sosial
Bentuk kegiatan berupa mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesame klien lanjut usia berarti mencipatakan sosialisasi mereka. Tujuannya untuk  mendukung pasien lansia agar tetap bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Misalnya, seperti berolahraga pagi.
4.      Pendekatan Spiritual
Bentuk pendekatannya yaitu perawat harus memberikan ketenangna dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianut, terutama bila pasien lanjut usia dalam keadaan sakit.

E.     Kutipan dari Jurnal Pendukung
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Liya Novitasari, dkk (2013), Faktor-faktor kecemasan yang dialami oleh lansia yang tinggal di balai rehabilitasi yaitu lansia merasa khawatir akan penyakitnya yang bertambah parah, lansia merasa khawatir bahwa penyakitnya tidak bisa sembuh, perasaan lansia yang merasa bahwa dirinya sudah tidak diperdulikan lagi oleh keluarga, diasingkan oleh keluarga dan lingkungan yang dirasa tidak nyaman oleh lansia. Adanya perbedaan dari sikap penerimaan lansia terhadap perubahan yang terjadi baik secara fisik maupun psikologis dari lansia ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap kecemasan.Penyebab kecemasan yang sering dialami lansia adalah kondisi lingkungan atau tempat tinggal seseorang, emosi yang ditekan, sebab-sebab fisik (Ramaiah, 2003). Kecemasan ditandai dengan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Bila kecemasan tidak sejalan dengan kehidupan dan berlangsung terus-menerus dalam waktu lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Stuart & Sundeen, 1998). 
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Fitria Ayuningtyas dkk, (2017) Pasien lansia sangat memerlukan komunikasi yang baik dan empati juga perhatian yang “cukup” dari berbagai pihak, terutama dari keluarganya sebagai bagian penting dalam penanganan masalah kesehatan mereka. Namun, dengan berkembangnya zaman dan semakin tingginya kebutuhan hidup sehari-hari maka orang-orang kini sibuk untuk bekerja mencari nafkah. Berangkat ke tempat kerja sebelum subuh dan tiba di rumah saat malam hari dikarenakan macetnya jalanan. Hal tersebut ternyata menjadi alasan utama, sebagian orang yang menitipkan orangtuanya yang telah lansia ke Panti Werdha dan tidak semata-mata untuk “membuangnya,” melainkan ingin memberikan kenyamanan dan keamanan mengingat jika ditinggal sendiri di rumah memiliki risiko yang tidak sedikit.
BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Kesehatan yang optimal pada pasien lanjut usia atau selanjutnya penulis sebut sebagai lansia tidak hanya bergantung kepada kebutuhan biomedis semata namun juga bergantung kepada kondisi disekitarnya, seperti perhatian yang lebih terhadap keadaan sosialnya, ekonominya, kulturalnya bahkan psikologisnya dari pasien tersebut. Hubungan saling memberi dan menerima antara perawat dan pasien dalam pelayanan keperawatan disebut sebagai komunikasi terapeutik perawat yang merupakan komunikasi profesional perawat. Komunikasi antara perawat dan pasien lansia harus berjalan efektif terutama bagi pasien lansia karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan dari pasien lansia tersebut. Komunikasi yang baik dengan pasien adalah kunci keberhasilan untuk masalah klinisnya.



DAFTAR PUSTAKA
            Fitria Ayuningtyas,dkk..2017. Komunikasi Terapeutik pada Lansia di Graha Werdha AUSSI Kusuma Lestari, Depok. Vol.10(2), 201-215
            Liya Novitasari,dkk. 2013. Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Kecemasan Lansia yang Tinggal di Balai Rehabilitasi Sosial “Mandiri” Pucang Gading Semarang. 72-75.

SISTEM PERKEMIHAN


SISTEM PERKEMIHAN

  1. Definisi Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan adalah sebuah  sistem dimana terjadinya proses  filtrasi  darah, sehingga darah bebas dari zat yang tidak digunakan oleh tubuh dan menyerap kembali zat-zat yang masih dibutuhkan oleh tubuh (Syaifuddin, 2002)
Sistem urinaria adalah suatu sistem menghasilkan  urine dan mengeluarkannya dari tubuh. Sistem ini merupakan salah satu sistem utama untuk mempertahankan homeostatis (Kekonstanan lingkungan internal) (Sloane, 2004 )
  1. Fungsi Sistem Perkemihan
1.      Ginjal mensekresikan  sisa nitrogen,misalnya ureum, asam urat, kreatin, dan amonium.
2.      Mempertahankan volume darah,dengan mengatur jumlah air yang dikeluarkan.
3.      Memonitor komposisi darah dengan pengeluaran elektrolit, sodium (Na) paling banyak selain potasium (K), bikarbonat dan kalsium.
4.      Memonitor pH darah, dengan mengatur pengeluaran ion, misalnya hidrogen.
  1. Susunan Sistem Perkemihan
1.      Ginjal
Berbentuk seperti kacang merah dan berwarna merah tua. Ginjal terletak di rongga abdomen posterior. Pada bagian luar ginjal terdapat korteks yang  berisi nefron, bagian dalam terdapat medulla dan pelvis.
2.      Ureter
Terdiri dari 2 pipa yang masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih. Lapisan dinding ureter terdiri dari lapisan luar (jaringan ikat/ fibrosa) dan lapisan tengah (otot polos). Lapisan dinding ureter terjadi gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang berfungsi mendorong urine melalui ureter.  Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
3.      Vesika Urinaria
Organ muskular berongga yang berfungsi sebagai kontainer penyimpan/menampung urine sementara. Kapasitas maksimal 300-450 ml.Lokasi : pada laki-laki terletak tepat di belakang simphisis pubis dan di depan rektal dan pada perempuan, terletak agak di bawah uterus di depan vagina. Jika penuh mampu mencapai umbilikus di rongga abdominopelvis.
4.      Uretra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih. Berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Dalam anatomi, uretra adalah saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh. Uretra berfungsi sebagai saluran pembuang baik pada sistem kemih atau ekskresi dan sistem seksual. Pada pria, berfungsi juga dalam sistem reproduksi sebagai saluran pengeluaran air mani.
Referensi :
Potter, Patricia A, dan Anne G. Perry.2009. Fundamental keperawatan Edisi 7. Jakarta: Salemba medika
Haryono.2012. Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta.
Sloane, Ethel.2004. Anatomi dan Fisiologi, EGC. Jakarta
Sarbini.2004.Anatomi dan fisiologi,EGC.Jakarta







PERAWATAN PALIATIF

Tugas Kelompok  Blok Keperawatan Paliatif dan Menjelang Ajal Tutorial 6: Erfiana Elsa Ismiranda Namira Salsabila Nurul Mudhma...